Rabu, 06 April 2022

 

Platyhelminthes

Platyhelminthes ini berasal dari bahasa Yunani “Platy” memiliki arti pipih serta “helminthes” artinya adalah cacing. Platyhelminthes ini ialah cacing berbentuk halus dan juga pipih, tripoblastik (memiliki 3 lapisan embrionik) serta juga aselomata (tidak mempunyai rongga tubuh). Cacing ini terdapat pada air tawar, air laut dan juga di tanah yang lembab. Cacing trematoda serta Cacing pita ini ialah contoh cacing pipih yang memiliki sifat parasit pada manusia serta hewan. Penyakit yang bisa atau dapat ditimbulkan oleh kedua cacing ini ialah Taeniasis serta Trematodiasis.

 

Ciri-ciri Platyhelminthes

Dibawah ini merupakan ciri-ciri dari Platyhelminthes yakni :


  1. Cacing pipih ini memiliki sifat tripoblastik aselomata yakni mempunyai 3 lapisan embrionik terdiri dari ectoderm, mesoderm serta endoderm, dan juga tidak memiliki rongga tubuh.
  2. Rongga pencernaan tidak mempunyai anus
  3. Mempunyai tubuh simetri bilateral
  4. Tubuh lunak serta adanya silia pada epidermis tubuh
  5. Umumnya Hidup ialah sebagai parasit kecuali Planaria
  6. Tidak mempunyai sistem sirkulasi
  7. Pernapasan dilakukan dengan permukaan tubuh serta ruang gastrovaskuler
  8. Reproduksi dengan secara vegetative (fragmentasi/aseksual) serta juga generative (pembuahan silang/ seksual)
  9. Memiliki sifat hemafrodit (yakni mempunyai 2 alat kelamin disatu tubuh)

Struktur Tubuh Platyhelminthes

Struktur-Tubuh-Platyhelminthes

Platyhelminthes mempunyai ukuran tubuh yang beragam. Ukuran ini bisa atau dapat berupa ukuran yang mikroskopis hingga yang makroskopis itu dengan panjang 20 m seperti dicacing Taenia solium. Platyhelminthes mempunyai tubuh yang simetri bilateral yakni tubuh bisa atau dapat dibagi menjadi 2 bagian yang sama dengan melalui pesawat pusat.

Platyhelminthes ini ialah suatu cacing yang sifatnya itu yakni tripoblastik aselomata yang merupakan suatu organisme yang mempunyai 3 lapisan embrionik (mesoderm,ectoderm dan juga endoderm) dan juga aselomata yang artinya ialahtidak memiliki sebuah rongga tubuh. Mesoderm pada platyhelminthes tersebut tidak mengalami spesialisasi sehingga sel-selnya tetap seragam serta tidak membentuk sel khusus.

Sistem pencernaan platyhelminthes ini berupa sistem gastrovaskuler yakni peredaran makanan tidak dengan melalui darah tapi dengan melalui usus. Sistem pencernaan tersebut dimulai dari mulut kemudian faring setelah itu kerongkongan. Selain itu cacing ini tidak mempunyai anus, sehingga sisa makanan tersebut dikeluarkan dengan melalui mulut. Sistem saraf ini berupa sistem saraf tangga tali. Di platyhelminthes untuk tingkat tinggi sistem saraf ini tersusun dari sel neuron yang setelah itu setelah itu kemudian terbagi lagi menjadi sel saraf sensori serta juga sel saraf motoris dan juga sel asosiasi (perantara).


Sistem Organ Platyhelminthes

Sistem-Organ-Platyhelminthes

1. Sistem pernafasan dan sistem sirkulasi

Platyhelminthes ini tidak mempunyai kedua sistem ini. Proses pertukaran O2 serta CO2 dilakukan dengan secara difusi yang mana proses pertukaran tersebut dari tempat yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang rendah.

2. Sistem pencernaan

Sistem pencernaan cacing ini belum sempurna. Sistem pencernaanya ini terdiri atas mulut, faring serta kemudian kerongkongan. Cacing tersebut tidak mempunyai anus sehingga sisa makanan ini dikeluarkan lagi dengan melalui mulut. Cacing ini mempunyai sistem pencernaan gastrovaskuler yang mana saluran pencernaannya ini bercabang-cabang ke seluruh tubuh yang memiliki peran sebagai usus.


3. Sistem saraf

Sistem saraf ini memiliki dua (2) ganglion diujung ventral tubuh. Yang mana nantinya akan keluar satu pasang saraf longitudinal menuju ke bagian tubuh posterior. Diantara pasangan saraf tersebut dihubungkan oleh beberapa saraf lateral.

Dalam sistem syaraf tersebut terdapat beberapa macam sistem saraf di Platyhelmintes ( cacing pipih ) antara lain ialah sebagai berikut :

  • Sistem syaraf tangga tali ini merupakan sistem syaraf yang paling sederhana. Pada sistem ini pusat susunan syaraf ini disebut dengan sebutan ganglion otak terdapat pada bagian kepala serta jumlah itu sepasang, dari kedua ganglion otak itu keluar tali syaraf sisi yang memanjang di bagian kiri serta juga kanan tubuh yang dihubungkan dengan serabut syaraf melintang.
  • Pada cacing pipih lebih tinggi tingkatannya sistem saraf itu bisa atau dapat tersusun dari sel saraf ( neuron ) yang dibedakan itu menjadi sel saraf sensori ( yakni sel pembawa sinyal dari indera itu ke otak ), dan sel saraf motor ( yakni sel pembawa dari otak ke efektor serta juga sel asosiasi ( perantara ).

4. Sistem reproduksi

Sistem reproduksi ini bisa atau dapat terjadi dengan secara aseksual serta seksual. Secara aseksual, proses dari reproduksi ini terjadi dengan secara fragmentasi sedangkan untuk seksual terjadi dengan peleburan gamet jantan serta betina. Pada dasarnya cacing ini memiliki sifat hemafrodit yaitu di dalam 1 tubuh terdapat 2 alat kelamin (jantan sertabetina). Telur yang dihasilkan memiliki sifat mikroskopis. Fertilisasi ini terjadi dengan secara internal, baik itu sendiri atau fertilisasi silang.


5. Sistem Indera

Untuk beberapa jenis dari Platyhelmintes ( cacing pipih ) ini mempunyai sistem penginderaan berupa oseli yakni  bintik mata yang mengandung pigmen peka terhadap adanya cahaya. Bintik mata itu biasanya berjumlah sepasang serta juga terdapat dibagian anterior ( kepala ). Seluruh cacing pipih tersebut mempuynyai indra meraba serta sel kemoresptor disekujur tubuhnya. Beberapa dari spesies ini juga mempunyai indra tambahan yakni berupa reoreseptor (yakni organ untuk dapat mengetahui arah aliran sungai ), statosista (pengatur keseimbangan) serta aurikula (telinga). Pada dasarnya Platyhelmintes ( cacing pipih) ini mempunyai sistem osmoregulasi yang disebut dengan sebutan protonefridia. Sistem ini terdiri dari saluran pengeluaran cairan yang dimilikinya disebut dengan protonefridiofor yang jumlah itu ialah sepasang atau lebih. Sedangkan untuk sisa metabolism tubuhnya itu dikeluarkan dengan secara difusi melalui dinding sel.


Klasifikasi Platyhelminthes

Klasifikasi-Platyhelminthes

1. Kelas Turbellaria

Cacing pipih yang bergerak yakni dengan menggetarkan bulu getarnya. Umunya itu hidup bebas di air asin serta air tawar. Contohnya pada planaria sp yang hidup di sungai yang jernih, laut dan juga tempat yang lembab. Cacing ini merupakan indicator terhadap suatu pencemaran air. Cacing ini mempunyai bintik di kepalanya yang bisa atau dapat membedakan terang serta gelap. Cacing ini juga memiliki sifat menjauhi cahaya. Reproduksi yang dilakukan secara aseksual yakni dengan fragmentasi serta seksual dengan peleburan gamet jantan dan juga betina.

Turbellaria ini adalah kelompok platyhelminthes yang bisa atau dapat bergerak dengan menggetarkan bulu getarnya. Cacing pipih jenis ini hidup dengan secara bebas (bukan parasit) serta tidak mempunyai alat hisap.

Contoh Kelas Turbellaria

planaria

Salah satu hewan jenis ini yang sangat dikenal ialah planaria, kami akan berusaha menjelaskan kelas ini dengan mencontohkan planaria.

Tubuh Planaria ini mempunyai panjang 1 – 2 cm. Planaria ini memakan protista sertahewan kecil lainnya, planaria ini memakan mangsanya itu dengan menggunakan faring. Setelah ditangkap, makanan tersebut kemudian akan dipecah serta didorong masuk ke lambung oleh adanya faring. Umumnya untuk hewan jenis ini melakukan reproduksi dengan secara seksual. Warna tubuhnya gelap serta pada bagian kepala terdapat bintik mata untuk kemudian membedakan keadaan gelap serta terang. Mulutnya ini terdapat di permukaan ventral juga bisa atau dapat di tengah tubuh. Pada mulut nya itu terdapat struktur seperti taring yang disebut dengan probosis, probosis ini memiliki fungsi untuk menangkap mangsa. Turbellaria ini mampu untuk beregenerasi dengan cara memotong tubuh, serta juga daya regenerasi ini sangat baik.


2. Kelas Trematoda

Trematoda ini ialah cacing pipih yang memiliki sifat parasit pada manusia serta hewan. Cacing ini mempunyai alat isap yang memiliki kait yang fungsinya untuk melekatkan diri pada tubuh inangnya. Cacing ini mempunyai kutikula yang fungsinya ini untuk mencegah dirinya itu untuk ikut terhisap oleh sel inangnya. Contoh dari cacing jenis ini ialah Fasciola hepatica yang hidup di organ hati domba, F. gigantica ini di organ hati sapi serta Schistosoma japonicum yang hidup dipembuluh darah perut manusia

Tremotoda ini adalah kelompok platyhelminthes yang mempunyai alat hisap serta alat kait untuk dapat menempelkan diri pada inangnya. Trematoda ini adalah platyhelminthes yang hidupnya itu sebagai parasit. Tubuh bagian luarnya itu ditutupi oleh kutikula yang memiliki fungsi agar tubuhnya itu tidak tercerna oleh sel tubuh inangya. Hewan jenis ini tidak mempunyai silia pada permukaan luar tubuh. Makanan dari trematoda ini ialah cairan atau juga jaringan tubuh inangnya. Dinding tubuhnya ini mempunyai otot dan saraf.

Contoh Kelas Trematoda

cacing-hati

Contoh hewan ini adalah cacing hati. Cacing hati ini adalah bentuk hewan yang mempunyai ciri – ciri sebagai berikut,

  1. Panjang tubuh 2,5 – 3 cm ; serta juga lebar tubuhnya 1 – 1,5 cm,
  2. Mempunyai mulut meruncing yang juga dikelilingi oleh adanya alat penghisap.
  3. Untuk melindungi tubuhnya disaat bergerak, cacing mempunyai lapisan berupa sisik kecil dari kutikula diseluruh bagian tubuhnya.
  4. Mempunyai alat kelamin serta memiliki sifat hemaprodid , yang melakukan pembuahan dengan sendiri atau silang.
  5. Tidak mempunyai anus, dan juga sebagai ganti alat ekresinya itu berupa sel api.

3. Kelas Cestoda

Cestoda atau cacing pita ini ialah cacing berbentuk pipih yang parasit pada manusia serta hewan. Pada kepala cacing ini terdapat kait yang memiliki fungsi untuk melekatkan diri diusus inangnya. Cacing pita ini mempunyai tubuh yang dapat atau bisa terbagi menjadi beberapa bagian yang disebut dengan proglotid. Proglotid ini merupakan calon individu baru. Selama hidupnya cacing pita tersebut kemudian akan terus membuat proglotid yang baru.

Cestoda ini ialah kelompok platyhelminthes yang memiliki bentuk seperti pita serta sifatnya ialah parasit. Pada bagian kepala hewan ini juga terdapat kait yang memiliki fungsi untuk mengaitkan tubuhnya itu pada usus inang. Kepala cacing pita tersebut disebut dengan skoleks serta untuk bagian bawah kepala itu disebut dengan strobilus. Bagian Strobilus ini memiliki fungsi untuk membentuk progtolid pada hewan ini. Progtolid sendiri ialah bagian tubuh yang akan menjadi individu baru dikemudian hari. Cestoda iuni terus membentuk progtolid sertasemakin ke ujung progtolid itu juga akan semakin besar serta semakin matang. Selama siklus hidupnya itu mereka bisa atau dapat melibatkan lebih dari satu inang. Cacing pita ini bisa atau dapat ditularkan ke manusia dengan melalui daging babi atau juga sapi terinfeksi yang tidak dimasak matang.

Contoh Kelas Cestoda

Taenia-saginata

Contoh dari cacing ini ialah seperti Taenia saginata, Ciri-ciri dari cacing dewasa Taenia saginata :

  • Cacing dewasa ini memiliki panjang 5 – 10 meter
  • Cacing ini terdiri dari scolex, leher, serta strobila
  • Scolex yang berbentuk piriform berukuran 1 – 2 mm dilengkapi dengan 4 batil isap yang menonjol
  • Strobila ini terdiri dari 1000 – 2000 proglotid atau juga segmen yang mana makin ke distal proglotid itu semakin matang
  • Proglotid gravid ini berukuran 16 – 20 x 5 – 7 mm yakni dengan cabang uterus itu berjumlah 15 – 20 buah tiap sisi yang mana uterus gravid tersebut mengandung 80.000 sampai 100.000 telur
  • Lubang kelamin atau juga porus genitalis ini terletak di sebelah lateral serta berada berselang-seling di kanan serta kiri dengan tidak teratur

Peranan Platyhelminthes (cacing pipih)

Umumnya platyhelminthes ini adalah suatu cacing yang merugikan disebabkan cacing ini bersifat parasit pada manusia serta hewan, namun terdapat dari spesies platyhelminthes (cacing pipih) oini yang tidak merugikan manusia maupun hewan yakni planaria. Planaria ini mempunyai peranan yang dimanfaatkan yakni sebagai makanan ikan. Platyhelminthes (cacing pipih) ini lebih banyak memberikan dampak kerugian bagi manusia maupun juga hewan. Pada saat manusia mengkonsumsinya, dampaknya tersebut dapat merugikan manusia disebabkan karna terinfeksi cacing yang bisa atau dapat menyebabkan masalah-masalah bagi kesehatan manusia.


Penyakit yang Dapat Ditimbulkan Oleh Platyhelminthes

Platyhelminthes ini menimbulkan penyakit pada manusia maupun hewan, salah satunya ialah Schistosoma yang menyebabkan skistosomiasis. penyakit parasit yang ditularkan dengan melalui siput air tawar dimanusia.

Apabila cacing ini kemudian berkembang di tubuh manusia, yang dapat terjadi kerusakan jaringan serta juga organ seperti ureter, hati, kandung kemih, limpa, serta ginjal manusia.

Selasa, 11 Agustus 2020

 

Pengertian Seni Rupa 2 Dimensi

Seni rupa 2 dimensi adalah karya seni rupa yang hanya memiliki dua ukuran atau sisi, mudahnya karya ini hanya memiliki panjang dan lebar saja, tanpa dimensi ketiga yaitu: ruang (z). Contohnya adalah lukisan, seni grafis, ilustrasi dan karya rupa lain yang digambar diatas permukaan datar.

Istilah ini muncul ketika seni rupa dibedakan berdasarkan dimensinya, yaitu karya seni rupa dua dimensi dan seni rupa 3 dimensi. Penggolongan seperti ini dilakukan agar kita memahami seberapa jauh cakupan seni rupa dapat dibedakan.

Misalnya, seni rupa juga dapat dibedakan berdasarkan fungsinya. Yaitu, seni rupa terapan (applied art) yang pembuatannya melalui proses perancangan (desain), dan seni rupa murni, karya yang dibuat dengan tujuan untuk dinikmati keindahan dan keunikannya saja tanpa mempertimbangkan fungsi praktisnya.

Selain berdasarkan bentuk (dimensi) dan fungsinya, karya seni rupa juga dapat dibedakan berdasarkan karakteristik media (alat, teknik, dan bahan) dan orientasi pembuatannya. Berdasarkan karakteristik tersebut, seni rupa terbagi menjadi: seni lukis, seni grafis, seni patung, seni kriya, dan desain.

Ketika kita mengetahui setiap jenis seni rupa berdasarkan parameter fungsinya, maka akan jauh lebih mudah bagi kita untuk mengapresiasi atau menciptakan karya spesifik yang inign kita pelajari. Karena setiap jenis karya seni rupa yang berbeda akan membutuhkan treatment

yang berbeda pula.

Contoh Seni Rupa 2 Dimensi

Berdasarkan bentuk atau dimensinya, dapat dengan mudah diketahui apa saja yang termasuk kedalam seni rupa 2 dimensi. Contohnya adalah semua karya yang yang digambar diatas permukaan seperti kanvas, kertas, plastik dan papan kayu. Contoh seni rupa 2 dimensi meliputi:

  1. Lukisan. Karya seni rupa yang dilukis menggunakan kuas menggunakan media cat dan kanvas.
  2. Seni Grafis. Seni rupa yang dibuat melalui cetakan, seperti cetakan kayu, stempel atau sablon.
  3. Gambar. Seni rupa yang digambar menggunakan media gambar seperti pensil diatas kertas. Contohnya meliputi: gambar ilustrasi, gambar bentuk, gambar suasana, dsb.
  4. Desain Komunikasi Visual. Nama lain desain grafis yang biasa dibuat dengan menggunakan aplikasi komputer lalu dicetak diatas kertas menggunakan printer. Contohnya: Desain brosur, banner, hingga ke website.

Keunikan Seni Rupa 2 Dimensi

Jika berbicara terdapat karya yang memiliki dimensi lebih dari karya dua dimensi, maka akan muncul pertanyaan dan pernyataan bahwa seni rupa tiga dimensi adalah sesuatu yang lebih baik atau muktahir. Seperti bagaimana video game bergrafik 3d akan otomatis disebut lebih bagus daripada game kartun 2d.

Namun, seni ini tetap bertahan dan masih terus digunakan dengan alasan yang sangat rasional. Karena kurangnya dimensi pada seni rupa 2 dimensi justru memancing imajinasi lebih dari audiensnya. Gambar yang hanya dapat dilihat pada permukaan datar lebih mudah untuk menciptakan berbagai narasi dan teks diluar wujud fisiknya sendiri. Fokus pemirsa secara simultan akan mengapresiasi wujud fisik dan wujud batin dari karya 2d.

Dengan cepat, gambar dua dimensi dapat memancarkan berbagai pesan atau narasi yang akan membuat pemirsa gatal untuk menafsirkannya. Hal ini berbeda dengan  seni rupa 3 dimensi yang karena memiliki dimensi yang sama dengan dunia nyata. Karena wujudnya yang terlalu sama dengan alam, justru malah menimbulkan pengabaian atau kesulitan untuk mengapresiasi wujud batin. Ini sebabnya mengapa masyarakat umum lebih mudah untuk menikmati dan memahami lukisan ketimbang seni instalasi.

Unsur dan Objek Karya Seni Rupa 2 Dimensi

Seorang perupa (seniman, desainer, kriyawan, perajin dan sebagainya) mengolah unsur-unsur seni rupa fisik dan nonfisik sesuai dengan keterampilan dan kepekaan yang dimilikinya dalam mewujudkan sebuah karya seni rupa. Dalam sebuah karya seni rupa, unsur fisik dapat secara langsung dilihat dan atau diraba. Sedangkan unsur nonfisik adalah prinsip atau kaidah-kaidah umum yang digunakan untuk menempatkan unsur-unsur fisik dalam sebuah karya seni.

Seni rupa 2 dimensi berasal dari berbagai unsur-unsur pembentuk kesatuan yang diolah sedemikian rupa oleh perupa tau desiner yang menciptakannya.

Unsur-unsur tersebut terdiri dari unsur fisik yang dapat langsung dilihat hingga diraba. Kemudian, unsur nonfisik atau kaidah-kaidah umum yang digunakan untuk menempatkan unsur fisik dalam sebuah karya yang biasa disebut dengan prinsip seni.

Unsur-unsur fisik seni rupa 2 dimensi

  1. Garis (line). Garis adalah unsur fisik yang mendasar dan penting untuk menciptakan karya seni rupa. Garis memiliki dimensi datar memanjang, arah dan sifat-sifat khusus seperti: pendek, panjang, vertikal, horizontal, lurus, melengkung, berombak, dst.
  2. Raut (Bidang dan Bentuk). Raut merupakan tampak, potongan atau wujud dari suatu objek. Istilah ”bidang” digunakan untuk menunjuk wujud benda yang datar, sedangkan bangun /bentuk menunjukkan wujud benda yang tampak memiliki volume (mass), meskipun pada seni rupa 2 dimensi, volume tersebut hanya ilusi.
  3. Ruang. Ruang dalam karya seni rupa 2 dimensi berarti kesan dimensi dari objek atau background yang terdapat pada karya seni. Ruang dihadirkan melalui perbedaan intensitas gelap-terang, warna, hingga menggunakan teknik menggambar perspektif untuk menciptakan ruang semu (khayal).
  4. Tekstur (Barik). Unsur rupa yang menunjukan kualitas taktil dari suatu permukaan atau penggambaran struktur permukaan suatu objek pada karya seni rupa. Terdapat tekstur semu (buatan) dan tekstur asli. Tekstur asli adalah perbedaan ketinggian permukaan objek yang nyata dan dapat diraba (seperti cat timbul). Sementara tekstur semu/buatan adalah kesan semu permukaan objek yang direka melalui pengolahan unsur garis, gelap-terang, dsb.
  5. Gelap-Terang. Gerap terang adalah rekaan perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda yang digambar/dilukis pada karya seni rupa 2dimensi. Bagian yang terkena cahaya harus dibuat lebih terang dan bagian yang kurang terkena cahaya akan harus tampak lebih gelap.
  6. Warna. Warna adalah unsur rupa yang paling menarik perhatian. Menurut teori warna Brewster, semua warna yang ada berasal dari tiga warna pokok (primer) yaitu merah, kuning, dan biru. Dalam berkarya seni rupa terdapat beberapa teknik penggunaan warna, yaitu secara harmonis, heraldis, murni, monokromatik dan polikromatik.

Penjelasan lebih lengkap mengenai unsur-unsur seni rupa dan desain dapat dilihat disini:

Unsur Unsur Seni Rupa & Desain diperkuat Pendapat Ahli

Sementara unsur nonfisik atau prinsip seni rupa dapat dipelajari disini:

Prinsip Prinsip Seni Rupa dan Desain Menurut Para Ahli

Medium dan Bahan Karya Seni Rupa 2 Dimensi

Bahan berkarya seni rupa adalah material habis pakai yang digunakan untuk mewujudkan karya seni rupa tersebut. Sesuai dengan keragaman jenis karya seni rupa, bahan untuk berkarya seni rupa ini juga banyak macam dan ragamnya, ada yang berfungsi sebagai bahan utama (medium) dan ada pula sebagai bahan penunjang.


Bahan karya seni rupa adalah material pakai yang dapat habis ketika digunakan untuk menciptakan karya seni. Seperti jenisnya yang beragam, bahan untuk berkarya seni juga sangat beranekaragam. Ada yang berfungsi sebagai bahan utama atau disebut medium, ada juga bahan yang menunjang.

Contohnya, karya seni lukis dibuat menggunakan kanvas dan cat sebagai bahan utama, kemudian kayu dan paku sebagai bahan penunjang. Kayu digunakan sebagai bahan bingkai pembentang kanvas dan biasa disebut dengan spanram (stretch board).

Berdasarkan sumber bahan dan proses pengolahannya, bahan untuk berkarya seni rupa 2 dimensi juga dapat dikategorikan menjadi bahan alami dan bahan sintetis. Bahan baku alami adalah material yang bahan dasarnya berasal dari alam dan diolah tanpa proses kimiawi. Sementara bahan sintetis adalah bahan-bahan alam yang telah diolah melalui proses industri atau pabriksasi tertentu, sehingga menjadi bahan baru yang memiliki sifat dan karakter khusus yang baru pula.

Berdasarkan sifat materialnya, bahan berkarya seni rupa ini dapat juga dikategorikan ke dalam bahan lunak, keras, bahan cair dan padat, dan sebagainya.

Baca juga: Media Lukis: Pahami Bahan, Alternatifnya & Komponen Cat

Alat Berkarya Seni Rupa dua dimensi

Alat berkarya seni rupa sangat banyak jenis dan ragamnya. Ketika berkarya seni rupa 2 dimensi dikenal beberapa kategori alat utama, yaitu alat untuk menggambar, membentuk, dan mewarnai, h alat mencetak (melipatgandakan).

Seperti pada medium, dalam berkarya juga terdapat alat tidak secara khusus digunakan untuk kegiatan seni rupa, namun sangat diperlukan dalam kegiatan berkarya seni rupa seperti: alat pemotong (gunting atau pisau), alat pengukur, dan sebagainya.

Alat-alat tersebut bersifat penunjang untuk mempermudah proses pembuatan karya. Kemajuan teknologi juga saat ini membuat berkarya seni rupa dapat diasistensi atau dilakukan dengan menggunakan komputer.

Meskipun begitu, harus selalu disadari betul bahwa komputer hanyalah alat bantu. Karya seni ataupun desain yang identik dengan teknologi digital tetap membutuhkan kepekaan rasa yang sulit bahkan hampir tidak mungkin dapat diciptakan oleh program komputer.

Kepekaan rasa seni atau sense of art adalah kompetensi unik dan khas yang hanya dimilki oleh manusia. Setiap manusia biasanya memiliki gaya dan ciri khas yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, dan inilah yang membuat seseorang dapat menjadi seorang seniman.

Baca juga: Alat Lukis: Kuas, Pisau, Roller dengan Jenis & Fungsinya

Teknik Berkarya Seni Rupa dua dimensi

Berkarya seni rupa 2 dimensi membutuhkan keterampilan teknis menggunakan alat dan mengolah bahan untuk mewujudkan karya yang garap. Sebagai contoh, untuk menciptakan karya lukisan, seorang perupa harus menguasai keterampilan teknis menggunakan  kuas dan mencampur cat (mengolah bahan) pada kanvas (medium).

Baca juga: Teknik Melukis yang Sebenarnya: Glazing, Underpainting, dll

Beberapa teknik karya seni rupa juga dapat sangat spesifik terhadap satu bidang saja. Seni kriya Batik misalnya, membutuhkan teknik khas dan unik untuk membatik.

Suatu teknik berkarya seni rupa 2 dimensi mungkin saja secara khusus digunakan sebagai teknik utama dalam mewujudkan satu jenis karya seni rupa tetapi mungkin juga digunakan untuk mewujudkan jenis karya seni rupa lainnya.

Artinya, teknik adalah salah satu hal yang dapat dieksplorasi untuk menghasilkan karya yang unik. Misalnya, bagaimana jika kita menggunakan canting batik untuk melukis diatas kanvas? Coba saja, kreativitas itu tidak ada batasnya.

Proses Berkarya Seni Rupa 2 dimensi

Pembuatan karya seni 2 dua dimensi dilakukan melalui sebuah proses yang bertahap. Tahapan ini akan berbeda antara satu jenis karya dengan jenis karya lainnya mengikuti karakteristik teknik, bahan dan alat yang sebelumnya telah dibahas.

Namun, secara umum berkarya seni rupa 2 dimensi akan dimulai karena adanya motivasi untuk berkarya. Motivasi tersebut dapat berasal dari dalam diri maupun dari luar senimannya. Jika kita melihat pada sejarah-sejarah atau cerita masa lalu, terkadang motivasi seniman untuk berkarya bisa menjadi sangat dramatis.

Seakan motivasi seni harus berasal dari suatu tragedi atau kisah kelam senimannya. Padahal, nyatanya sesuatu yang sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari dapat menjadi ide atau motivasi untuk berkarya. Cobalah perhatikan dan amati benda-benda atau peristiwa sehari-hari di sekitar kita. Kemudian, kembangkan hasil pengamatan tersebut menjadi tema utama berkarya.

Jika analisis dilakukan dengan cermat dan tepat, maka ide dan motivasi berkarya pasti dapat terbentuk. Misalnya, ada Seniman yang terkenal karena melukis menggunakan benang dan jarum jahit. Bahkan ada yang menggambar menggunakan rontokan rambutnya sendiri ketika ia sedang mandi, dengan cara menempelkan rambut-rambut tersebut dinding keramik kamar mandinya.

Referensi

  1. Hardjana Suka. (1995). Manajemen Kesenian dan Para Pelakunya: Yogyakarta, MSPI.
  2. Sedyawati, Edi dkk. (1983). Seni dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: Gramedia.
  3. Zackaria Soetedja, dkk. (2017). Seni Budaya untuk SMA/SMK/MAK kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.